Theaflavin dan Thearubigin Teh Oolong Gamboeng

Penulis : Administrator


Tanggal Posting : 09 Sep 2019 00:00 Wib | Dibaca : 4778 | Kategori : Artikel


Teh memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Beberapa manfaat teh yang telah diketahui antara lain menurunkan kolestrol, menurunkan risiko osteoporosis, sebagai antivirus, penghilang bau, menjaga kesehatan gigi dan mulut, meningkatkan kondisi kognitif dan psikomotor pada orang dewasa, mencegah penyakit jantung koroner, mencegah penyakit liver, serta mencegah pertumbuhan dan perkembangan kanker lambung, esofagus, dan kulit (Wardiyah et al., 2014). Hal tersebut disebabkan karena teh mengandung polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan yang mampu melindungi tubuh dari radikal bebas.

Senyawa polifenol ini merupakan senyawa yang dominan dalam teh dan salah satu turunan dari polifenol yang memilki khasiat antioksidan yang tinggi adalah katekin (Anjarsari, 2016). Meskipun katekin membawa sifat pahit dan sepat pada seduhan teh, senyawa ini memiliki peran penting dalam daun teh sebagai penentu kualitas teh dalam pengolahannya. Di dalam teh, katekin memiliki empat derivat utama, antara lain epikatekin (EC), epikatekin galat (ECG), epigalokatekin (EGC), epigalokatekin galat (EGCG), dan galokatekin (GC) (Leung et al., 2001).

Epigalokatekin dan epigaloketin galat akan menghasilkan senyawa turunan  berupa theaflavin (TF) dan therubigin (TR). Theaflavin dalam seduhan teh memberi warna kuning dan bersifat agak asam. Sementara itu, thearubigin merupakan hasil oksidasi lanjut dari theaflavin, sehingga kandungan thearubigin dalam teh akan lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan theaflavinnya (Rohdiana, 1999). Thearubigin dalam seduhan memberikan warna merah kecoklatan pada seduhan teh (Hilal dan Engelhardat, 2007).

Jumlah theaflavin dan thearubigin yang dihasilkan dalam produk teh akan berbeda beda, hal ini dipengaruhi oleh salah satunya adalah perbedaan jenis klon pada teh (Anjarsari 2016). Kadar theflavin dan thearubigin tertinggi terdapat pada teh hitam kemudian diikuti oleh teh oolong dan terakhir teh hijau. Hal tersebut disebabkan karena teh hitam mengalami oksidasi penuh sehingga mengubah sebagian besar katekin menjadi theaflavin dan thearubigin.

Penelitian yang dilakukan di Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung tentang perbedaan jenis klon terhadap kadar theaflavin dan thearubigin pada teh oolong menunjukkan bahwa adanya perbedaan kadar theaflavin dan thearubigin pada beberapa klon asamika dan sinensis. Penelitian ini menggunakan metode Robert dan Smith (1963) dengan prinsip analisis ektraksi theflavin menggunakan pelarut IBMK  atau etil asetat. Sementara itu, thearubigin dalam bentuk garamnya tidak terekstraksi oleh larutan ini, tetapi dapat diekstraksi dalam bentuk asam bebas. Thearubigin yang diekstraksi dengan IBMK akan larut dalam Natrium bikarbonat, dimana theaflavin tidak dapat dilarutkan.

Penelitian tersebut menggunakan bahan utama daun teh p+1 dan p+2 dari klon GMB 1, GMB 3, GMB 9, dan sinensis. GMB 1, GMB 3, dan GMB 9 merupakan pengembangan daun teh dari varietas assamica. Daun segar tersebut kemudian diolah menjadi teh oolong, yaitu jenis pengolahan teh setengah fermentasi yang secara prinsip dasar pengolahan adalah pelayuan oleh sinar matahari, pelayuan dalam ruangan, inaktifasi enzim, penggulungan dan pengeringan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa klon GMB 1 memiliki kadar theaflavin dan thearubigin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis klon lainnya. Kemudian diikuti oleh klon Sinensis, GMB 9, dan GMB 3.

Semakin tinggi kandungan katekin nya maka akan semakin tinggi kadar theaflavin dan thearubigin yang dihasilkan. Sebaliknya, semakin rendah kandungan katekinnya maka akan semakin rendah pula kadar theaflavin dan thearubigin yang dihasilkan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, proses produksi, kondisi lingkungan pada saat melakukan proses pembuatan teh oolong. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis klon dapat mempengaruhi kandungan theaflavin dan thearubigin pada teh oolong.

 

Disusun oleh :

1. Annisa Dzakia R (Mahasiswi Departemen Kimia, FMIPA, IPB)

2. Hilman Maulana (Peneliti Pengolahan Hasil dan Enjiniring, PPTK)

 

Daftar Pustaka :

Anjarsari, I.R.D. 2016. Katekin teh Indonesia : prospek dan manfaatnya. Jurnal Kultivasi. 15(2) : 99-106.

Hilal, Y., dan U. Engelhardt. 2007. Characterization of white tea comparison to green and black tea. J. Verbr. Lebensm. 2: 414-421.

Leung, L.K., Yalun Su, Ruoyun Chen, Zesheng Zhang, Yu Huang, Zhen-Yu Chen. 2001. Theaflavins in Black Tea and Catechins in Green Tea Are Equally Effective Antioxidants. The Journal of Nutrition 131(9): 2248–2251. https://doi.org/10.1093/jn/131.9.2248

Robert dan Smith. 1963. The phenolic substance of manufactured tea. J Sci Fd Agric. 14(9): 689-700.

Rohdiana D. 1999. Evaluasi kandungan theaflavin dan thearubigin pada teh kering dalam kemasan. JKTI. 9(1-2) : 29-32.

Wardiyah H, Alioes Y, Pertiwi D. 2014. Perbandingan reaksi zat besi terhadap teh hitam dan teh hijau secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Jurnal Kesehatan Andalas. 3 (1) : 49-53.


Post Terkait

  • Pengaruh Teh Hitam dan Teh Hijau Terhadap Penyerapan Zat Besi oleh Tubuh

    Tanggal : 10 Sep 2020 08:51:25 Wib

    Salah satu permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah anemia defisiensi gizi. Defisiensi besi ini dapat disebabkan oleh asupan dan serapan yang kurang, seperti kebiasaan mengkonsumsi zat yang dapat menghambat penyerapan zat gizi seperti minum teh pada saat makan. Hambatan penyerapan ini disebabkan oleh polifenol yang terkandung didalam teh, terutama tanin (Besral et al., 2007). Meskipun teh diketahui memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, tetapi teh juga diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi jika dikonsumsi pada waktu yang salah, seperti pada saat makan atau dalam satu jam setelah makan. Kebiasaan inilah yang menjadi penyebab terjadinya anemia defisiensi besi (Almatsier, 2009).


  • Smart Plantation : Teknologi Drone untuk Perkebunan Teh

    Tanggal : 03 Aug 2020 09:05:00 Wib

    Drone merupakan salah satu teknologi canggih berupa kendaraan udara. Bentuknya menyerupai pesawat terbang atau helikopter yang dapat dioperasikan tanpa dikendarai oleh awak atau pilot. Menurut Dadang (2019), drone merupakan teknologi dengan berbagai kelebihan, diantaranya (1) efisiensi dalam biaya operasi, (2) efisiensi dalam penggunaan air, (3) efisiensi dalam waktu, (4) efisiensi dalam tenaga kerjs, dan (5) rendahnya drift (dalam kondisi tertentu). Menurut Irawaty., et al (2017), drone sudah mulai dikembangkan untuk mendeteksi keadaan dan kesuburan tanah serta pendeteksian kesehatan tanaman. Sehingga drone juga dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan pupuk tanaman.


  • Rainfall Simulator Sebagai Pendugaan Laju Erosi Pada Perkebunan Teh Dengan Cara Yang Sederhana

    Tanggal : 13 Jul 2020 14:13:02 Wib

    Degradasi lahan di Indonesia umumnya disebabkan oleh erosi air hujan. Erosi dapat menjadi masalah serius bagi perkebunan teh, hal ini disebabkan karena jika laju erosi pada lahan perkebunan teh besar dapat menyebabkan hilangnya partikel-partikel tanah pada top soil dan menyebabkan terjadinya kehilangan unsur hara pada lapisan atas tanah yang disebabkan oleh pencucian yang berasal dari terjadinya erosi.


  • Masker Gel Peel-Off Ektrak Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis)

    Tanggal : 29 Jun 2020 11:13:04 Wib

    Teh (Camelia sinensis) merupakan bahan minuman dibuat dari pucuk muda daun teh yang telah mengalami proses pengolahan tertentu seperti pelayuan, penggilingan, oksidasi enzimatis dan pengeringan. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan Selatan, namun sekarang telah dikembangkan di seluruh dunia, di daerah tropis maupun subtropis. Teh bermanfaat memberi rasa segar, dapat memulihkan kesehatan badan. Khasiat yang dimiliki oleh minuman teh tersebut berasal dari kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam daun teh. Kandungan senyawa kimia dalam daun teh dapat digolongkan menjadi 4 kelompok besar yaitu golongan fenol, golongan bukan fenol, golongan aromatis dan enzim.


  • Si ”Jambul” Sumber Kehidupan

    Tanggal : 15 Jun 2020 09:26:44 Wib

    Pada usia berapa anda mengetahui fakta bahwa tanaman teh dapat tumbuh menjadi pohon setinggi 15 meter, padahal yang kita lihat selama ini tanaman tersebut hanya tumbuh hingga setinggi pinggang orang dewasa? Jawabannya ada pada pemangkasan. Proses ini merupakan upaya untuk menghasilkan bidang petik yang rendah sehingga mempermudah dalam pemetikan serta dapat menghasilkan pucuk teh dalam jumlah banyak. BPPP (2005) mengemukakan bahwa pemangkasan merupakan tindakan membuang sebagian dari bagian tanaman untuk menumbuhkan dan merangsang pembungaan dan pembuahan ke arah yang dikehendaki.


Tinggalkan Komentar :


Ketik ulang karakter dari gambar:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

No Comments Results.